Mengenal Diabetes Mellitus

Posted on : April 5, 2021

Oleh dr. Ari Kurnianingrum Sp. PD

Spesialis Penyakit Dalam di BIMC Hospital Nusa Dua

Mengenal Diabetes Mellitus — Diabetes mellitus (DM) sampai saat ini masih menjadi tantangan bagi masyarakat maupun tenaga kesehatan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi adanya peningkatan jumlah penyandang DM yang menjadi salah satu ancaman kesehatan global. WHO memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Jika hal ini terjadi maka akan menjadi beban khususnya beban finansial bagi masyarakat dan pemerintah.

Oleh karenanya, semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah harus senantiasa ikut serta secara aktif dalam usaha penanggulangan DM, khususnya dalam upaya pencegahan. Tulisan ini dibuat sebagai salah satu upaya untuk memberikan informasi tentang DM kepada masyarakat sehingga nantinya dapat membantu upaya pencegahan maupun pengobatan DM.

Apa itu Diabetes Mellitus?

Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia ( kadar glukosa/gula darah yang tinggi), yang terjadi karena kelainan sekresi insulin artinya tubuh tidak dapat memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau karena gangguan kerja insulin atau karena kombinasi keduanya. Insulin merupakan hormon yang dihasilkan oleh sel beta pankreas tubuh kita dan berfungsi mengubah glukosa darah menjadi bentuk simpanannya (glikogen).

Klasifikasi diabetes

Seringkali kita mendengar penggolongan diabetes menjadi diabetes basah dan diabetes kering berdasarkan luka yang diderita. Secara medis kita tidak mengenal istilah tersebut untuk penggolongan diabetes. Diabetes diklasifikasikan menjadi 4 tipe sebagai berikut:

  1. Diabetes Mellitus tipe 1 ; yang terjadi karena adanya destruksi atau kerusakan sel beta pankreas sehingga gagal memproduksi insulin
  2. Diabetes Mellitus tipe 2 ; yang bisa terjadi karena dominan resistensi insulin (gangguan kerja insulin) disertai dengan defisiensi insulin relatif sampai dengan yang dominan defek sekresi insulin disertai resistensi insulin
  3. Diabetes Mellitus tipe lain ; bisa terjadi karena adanya kerusakan genetik pada fungsi sel beta pankreas, karena infeksi, atau karena obat atau zat kimia lain. Salah satu obat yang bisa menimbulkan diabetes tipe lain adalah golongan antiinflamasi kortikosteroid ( seperti prednison atau metilprednisolon). Obat ini banyak digunakan di masyarakat dan kadang tanpa peresepan dari dokter sehingga masyarakat harus berhati-hati dalam penggunaannya apalagi jika digunakan jangka panjang.
  4. Diabetes mellitus gestational ; diabetes yang terjadi saat hamil. Seluruh wanita hamil harus menjalani tes gula darah pada umur kehamilan 23-28 minggu untuk mendeteksi ada tidaknya diabetes apalagi pada wanita yang berisiko tinggi terkena diabetes. Penanganan diabetes pada wanita hamil sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya komplikasi pada ibu dan janin.

Selanjutnya yang akan kita bahas dalam tulisan ini adalah diabetes tipe 2 yang banyak jumlahnya dalam populasi dan cenderung akan meningkat jika tidak dilakukan pencegahan aktif.

BAGAIMANA MENDIAGNOSIS DIABETES MELLITUS?

Diagnosis diabetes mellitus ditegakkan berdasarkan pemeriksaan kadar glukosa/gula darah. Pada umumnya penyandang diabetes datang dengan gejala-gejala seperti berikut ini :

  • Keluhan klasik DM : poliuria (banyak kencing), polidipsia ( merasa selalu haus sehingga banyak minum), polifagia ( banyak makan), penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
  • Keluhan lain : badan terasa lemas/lemah, kesemutan, pandangan kabur, gatal-gatal atau keputihan pada area vagina wanita, gangguan ereksi pada laki-laki

Dalam praktek klinis sehari-hari kita juga sering menjumpai pasien-pasien yang ternyata memiliki diabetes tapi tidak menyadarinya karena tidak merasakan gejala. Pasien-pasien seperti ini biasanya dapat kita ketahui terkena diabetes karena memiliki faktor-faktor risiko diabetes tipe 2 dan kita anjurkan untuk melakukan tes kadar gula/glukosa darah. Sehingga sebelum kita membicarakan tentang bagaimana menegakkan diagnosis diabetes berdasarkan kadar gula darah maka ada baiknya kita mengetahui dulu siapa-siapa yang berisiko terkena diabetes mellitus tipe 2.

Faktor-faktor risiko diabetes mellitus tipe 2 :

  1. Kelompok masyarakat dengan berat badan lebih (indeks massa tubuh≥23kg/m2 yang disertai dengan satu atau lebih faktor risiko sebagai berikut :
    1. Aktivitas fisik yang kurang
    2. Terdapat faktor keturunan DM dalam keluarga
    3. Perempuan yang memiliki riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir >4kg atau mempunyai riwayat diabetes mellitus gestational
    4. Hipertensi (tekanan darah≥140/90mmHg atau sedang mendapat terapi untuk hipertensi)
    5. Riwayat prediabetes
    6. Obesitas berat
    7. Riwayat penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah)
    8. Kolesterol HDL<35mg/dL dan atau trigliserida >250mg/dL
  2. Kelompok usia >45 tahun tanpa faktor risiko di atas

Catatan : Indeks massa tubuh dihitung dengan rumus : berat badan (BB) dalam kg dibagi kuadrat tinggi badan (TB) dalam meter. Rumus : BB/(TB)dengan satuan kg/m2

Sebagai contoh : Pasien dengan TB 160cm dan berat badan 65kg maka indeks massa tubuhnya adalah : 65/(1,6)2 yaitu 25,39 kg/m2

Coba kita perhatikan sekali lagi faktor-faktor risiko terjadinya diabetes mellitus tipe 2 diatas. Apakah ada diantara kita memiliki salah satunya atau bahkan lebih dari satu? Dari daftar diatas, apabila kita telah berumur lebih dari 45 tahun walaupun tanpa memiliki faktor risiko lain yang disebutkan maka kita sudah perlu untuk melakukan skrining ada tidaknya diabetes. Apalagi kalau kita memiliki faktor risiko lain seperti riwayat diabetes pada ayah atau ibu, atau berat badan lebih, atau hipertensi atau gangguan kolesterol. Dengan melakukan deteksi dini karena kita mengetahui bahwa kita memiliki faktor risiko untuk terkena diabetes maka kita dapat melakukan penanganan lebih cepat untuk mencegah perburukan atau komplikasi yang mungkin timbul dan dapat memiliki kualitas hidup yang baik. Saat ini upaya pencegahan diabetes jauh lebih digaungkan untuk mencegah kenaikan jumlah penyandang diabetes di Indonesia.

Selanjutnya untuk mengetahui apakah kita terkena diabetes atau tidak maka perlu dilakukan tes kadar glukosa/gula darah melalui pengambilan darah vena. Untuk diagnostik maka harus dengan pengambilan darah oleh tenaga medis di fasilitas pelayanan kesehatan seperti  rumah sakit, klinik, puskesmas atau laboratorium. Tes darah di ujung jari tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis diabetes.

Sehingga jika dalam suatu kesempatan kita pernah cek gula darah di ujung jari dan angkanya tinggi maka perlu dilakukan pengecekan dengan darah vena untuk konfirmasi diagnosis. Seseorang dikatakan terkena diabetes jika memenuhi salah satu dari kriteria berikut ini :

  1. Glukosa/gula darah puasa ≥126mg/dL. Puasa adalah kondisi tidak ada asupan kalori selama minimal 8 jam
  2. Glukosa darah ≥200mg/dL 2 jam setelah tes toleransi glukosa oral. Tes toleransi glukosa oral dilakukan di laboratorium dengan beban glukosa 75gram dicampur dalam 250ml air dan dihabiskan dalam waktu 5 menit.
  3. Glukosa darah sewaktu ≥200mg/dL dengan keluhan klasik atau khas diabetes
  4. HbA1C≥ 6,5% dengan pemeriksaan yang terstandarisasi. HbA1c saat ini semakin sering digunakan dalam praktek klinis baik untuk diagnosis maupun untuk menentukan target terapi. HbA1c juga dapat memberikan gambaran rata-rata gula darah dalam beberapa bulan terakhir.

 BAGAIMANA PENANGANAN DIABETES MELLITUS TIPE 2?

Setelah seseorang dinyatakan terkena diabetes maka diperlukan penatalaksanaan  yang menyeluruh/komprehensif untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes. Tujuan penatalaksanaannya meliputi :

  1. Tujuan jangka pendek : menghilangkan keluhan DM, memperbaiki kualitas hidup, dan mengurangi risiko komplikasi akut
  2. Tujuan jangka panjang : mencegah dan menghambat progresivitas penyulit/komplikasi mikroangiopati (seperti retinopati/gangguan pada mata, nefropati/gangguan pada ginjal, neuropati/gangguan pada saraf) dan makroangiopati (stroke, penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh darah perifer)
  3. Tujuan akhir : turunnya morbiditas dan mortalitas DM

Langkah-langkah yang akan dilakukan oleh seorang dokter jika mendapatkan pasien yang telah tegak terdiagnosis DM adalah :

  1. Melakukan evaluasi medis lengkap yang meliputi riwayat penyakit diabetes ( berapa lama sudah mengidap diabetes, pernahkah mendapat pengobatan, riwayat pernah mengalami komplikasi atau tidak, faktor risiko lain yang dimiliki dan sebagainya)
  2. Melakukan pemeriksaan fisik lengkap ( tinggi badan, berat badan, tekanan darah, jantung, pemeriksaan kaki dan sebagainya)
  3. Melakukan evaluasi hasil tes glukosa darah dan HbA1c
  4. Melakukan deteksi komplikasi melalui pemeriksaan :
    1. Lipid pada keadaan puasa : kolesterol total, HDL, LDL dan trigliserida
    2. Tes fungsi hati
    3. Tes fungsi ginjal (creatinin dan e-GFR/laju filtrasi glomerulus)
    4. Tes urin rutin
    5. Albumin urin kuantitatif (mendeteksi kebocoran protein dari ginjal sebagai salah satu komplikasi)
    6. Elektrokardiogram (rekam jantung)
    7. Foto rontgen thoraks (dada)
    8. Pemeriksaan kaki secara komprehensif. Pemeriksaan kaki penting untuk mendeteksi apakah ada tanda-tanda neuropati perifer (gejala gangguan saraf tepi) misalnya kesemutan, kulit kering, mendeteksi adakah tanda-tanda gangguan peredaran darah di kaki yang kemungkinan dapat menyebabkan komplikasi lain seperti ulkus atau luka pada kaki atau gangren( kaki atau jari kaki menghitam) sebagai tanda tidak adanya aliran darah pada kaki sehingga dapat menyebabkan perlunya amputasi. Amputasi merupakan salah satu hal yang paling menakutkan bagi seorang penyandang diabetes. Maka kita harus bersama-sama bisa mencegahnya.

Pada prinsipnya ada 5 prinsip penanganan diabetes yang perlu dilakukan :

Edukasi

Pasien dan keluarga diberikan penjelasan mengenai apa itu diabetes, bagaimana menanganinya, komplikasi apa yang mungkin muncul, edukasi perlunya melakukan gaya hidup sehat dengan mengatur asupan kalori, olahraga teratur, bagaimana melakukan pemantauan gula darah, gejala dan tanda hipoglikemia yaitu kondisi gula darah yang rendah yang terutama dapat dialami oleh pasien yang menggunakan insulin  dan cara mengatasinya. Edukasi yang lengkap perlu diberikan sehingga pasien dan keluarga mempunyai gambaran tentang diabetes. Dokter, pasien, dan keluarga harus bersama-sama memiliki komitmen yang kuat dalam menangani diabetes, karena proses akan berlangsung terus menerus dan interaksi yang baik sangat diperlukan.

Pengaturan asupan kalori (terapi nutrisi medis)

Dokter, ahli gizi, pasien dan keluarga harus bekerjasama untuk mencapai sasaran terapi nutrisi. Prinsip pengaturan makan pada penyandang DM hampir sama dengan anjuran makan masyarakat umum yaitu makanan seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. Perlu ditekankan mengenai pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis, dan jumlah kandungan kalori. Komposisi makanan penyandang diabetes pada prinsipnya tetap harus mengandung karbohidrat, lemak, protein, serat. Bahan makanan yang harus dibatasi adalah yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak trans seperti daging berlemak dan susu fullcream. Sumber protein yang baik adalah ikan, udang , daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, tahu dan tempe. Koordinasi dengan ahli gizi diperlukan juga untuk edukasi mengenai pilihan-pilihan jenis bahan makanan sehingga dapat dibuat bervariasi dan tidak membosankan. Pada populasi khusus yang dengan gangguan fungsi ginjal memerlukan penghitungan khusus untuk protein yang direkomendasikan

Penurunan berat badan/aktivitas fisik

Diabetes sering disertai dengan berat badan lebih ( overweight atau obesitas) sehingga perlu dilakukan upaya untuk menurunkan berat badan agar target terapi bisa tercapai. Aktivitas fisik yang direkomendasikan adalah jalan cepat, bersepeda, yoga, berenang. Aktivitas fisik dilakukan minimal 30-40 menit 5 kali dalam seminggu.

Obat-obatan

Dokter akan memberikan pilihan terapi obat yang paling sesuai dengan kondisi penyandang diabetes saat ditemui. Perlu diperhatikan bahwa terapi diabetes bersifat individual sehingga terapi obat-obatan bisa berbeda-beda antara penyandang diabetes satu dengan yang lain. Pilihan terapi banyak ditentukan oleh sudah berapa lama menderita diabetes, komplikasi apa yang sudah terjadi, ketersediaan obat, keterjangkauan biaya dan sebagainya.

Monitoring glukosa darah

Jika pasien memiliki alat cek gula darah di rumah maka monitoring gula darah dapat dilakukan mandiri di rumah sesuai instruksi dokter.

Mengingat untuk sasaran target pengobatan tidak hanya terkait glukosa darah ( juga terkait tekanan darah, indeks massa tubuh, gangguan kolesterol, deteksi komplikasi dan sebagainya), maka kontrol rutin dengan dokter setiap jangka waktu tertentu perlu selalu dilakukan sehingga penyandang diabetes selalu dalam pemantauan.

Mari kita bersama-sama untuk lebih aktif melakukan deteksi dini diabetes dan komplikasinya, terutama pada kelompok masyarakat yang memiliki risiko terkena diabetes mellitus tipe 2. Kita mulai dari diri kita dan orang-orang terdekat kita. Mencegah lebih baik daripada mengobati, slogan lama namun sangat relevan untuk  diabetes. Melakukan deteksi dini diabetes dengan medical check-up dan menjaga gaya hidup sehat diharapkan dapat menjauhkan kita dari diabetes. Semoga bermanfaat, salam sehat untuk semua.  

Oleh dr. Ari Kurnianingrum Sp. PD — Spesialis Penyakit Dalam di BIMC Hospital Nusa Dua

Relate Article